Sabtu, 19 Januari 2013

Biopori atau Sumur resapan

Curah hujan yang tinggi belakangan ini kerap membuat jalanan banjir. Hal ini diperparah dengan buruknya drainase kota. Ujung-ujungnya, kemacetan kerap terjadi saat dan setelah turun hujan.

Sebenarnya, penyerapan air ke dalam tanah dapat dilakukan dengan cara yang mudah, yakni membuat lubang biopori. 


Biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Sementara, lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 20-30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm yang diisi dengan sampah organik. Fungsi utama lubang resapan biopori ini adalah mencegah terjadinya run of water atau menggenangnya air secara sia-sia. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R Brata, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor.


Lubang biopori memiliki banyak fungsi:
1. Menghindari tanah becek akibat air hujan yang tidak meresap dengan baik ke dalam tanah.
2. Menghindari genangan air yang membuat tanaman rusak.
3. Menyerap air menjadi cadangan air tanah.
4. Jika diaplikasikan serempak pada satu kawasan, bisa membantu mengurangi risiko terjadinya banjir.


Mengatasi banjir di perkotaan dengan sumur resapan dan biopori mungkin sudah kurang populer dibandingkan dengan membuat deep tunnel raksasa dengan biaya gigantik. Tapi, jangan dikira, membuat ribuan sumur resapan dan jutaan biopori di Jakarta tidak ada artinya bagi penanggulangan banjir. Saya yakin, manfaatnya akan besar sekali dalam mengatasi banjir. Ini mengingat tanah Jakarta dengan tekstur lumpur dan berpasir, yang mudah menyerap air. Apalagi jika warga yang membangun sumur resapan dan biopori itu mendapat insentif dari Pemda DKI.

Pembuatan sumur resapan atau biopori memiliki standar tertentu, tidak bisa sembarangan. Hal tersebut terdaftar dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2459-2002 yang merupakan revisi dari standar sebelumnya, SNI 06-2459-1991. Berdasarkan standar ini, syarat sumur resapan air hujan adalah memiliki penampang sumur resapan air hujan berbentuk segi empat atau lingkaran.


Syarat lain pembuatan lubang biopori adalah sumur tersebut berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil. Letak sumur resapan juga harus jauh dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak setidaknya satu meter dari pondasi bangunan.

Sebenarnya, sumur resapan dengan skala lebih kecil dapat dibangun sendiri oleh warga di tiap-tiap pekarangan rumahnya. Masuknya air hujan melalui peresapan ini akan menjaga cadangan air tanah. Dengan begitu, hujan tidak hanya "terbuang percuma" dan membuat genangan, namun memberikan keuntungan bagi kehidupan warga.

Reaksi:menarik

1 komentar:

asep saepulloh mengatakan...

salam dari si pemula pembuat blog....mohon bantuannya master....{ http://denislucky.blogspot.com/ }